Ngaji Budaya di Gedongsongo, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Semangat Sumpah Pemuda

Terkini 29 Oct 2026 16:16 • 3 min read • 24 views • By admin

Share berita ini

Ngaji Budaya di Gedongsongo, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Semangat Sumpah Pemuda
GEDONGSONGO - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan semangat persatuan, kecintaan terhadap tanah air, serta ke...

GEDONGSONGO - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan semangat persatuan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian generasi muda terhadap kebudayaan bangsa.

Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia”, kegiatan peringatan Sumpah Pemuda di kawasan Gedongsongo, Rabu (28/10/2026), menghadirkan ruang refleksi kebangsaan melalui kegiatan Ngaji Budaya bertajuk “Ngrawat Jagad Bekti Leluhur”.

Kegiatan ini mengangkat pentingnya merawat alam, menghormati warisan leluhur, serta menjaga nilai-nilai kebudayaan sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa Indonesia.
Melalui pendekatan budaya, peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan para pemuda pada 28 Oktober 1928 harus terus hidup dalam tindakan nyata generasi masa kini.

Ngaji Budaya, Ruang Merawat Kearifan Lokal
Ngaji Budaya menjadi salah satu cara untuk mendekatkan generasi muda dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Kebudayaan tidak sekadar dipandang sebagai tradisi masa lalu, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Semangat Ngrawat Jagad Bekti Leluhur mengandung pesan tentang pentingnya menjaga alam sekaligus menghargai pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Pesan tersebut relevan dengan tantangan generasi muda saat ini. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pemuda dituntut tetap memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kesadaran untuk menjaga kekayaan budaya Indonesia.

Menghadirkan Perspektif Budaya dan Kearifan Leluhur
Ngaji Budaya ini menghadirkan sejumlah narasumber dari latar belakang yang beragam, yakni Gunretno dari komunitas Sedulur Sikep, Gus Minin yang disebut sebagai kiai dari Boyolali, serta Prof. Dr. Widodo BS, M.S., seorang budayawan.

Kehadiran para narasumber tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif kearifan lokal, nilai spiritual, dan pemikiran kebudayaan dalam satu ruang dialog.
Melalui perjumpaan lintas perspektif tersebut, kebudayaan diharapkan dapat terus menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan sejarah, lingkungan, dan nilai-nilai luhur masyarakat.

Pemuda dan Tanggung Jawab Menjaga Indonesia

Peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda mengingatkan kembali pada ikrar bersejarah yang menyatukan para pemuda Indonesia, bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Semangat persatuan itu tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan bangsa.

Pemuda tidak hanya dituntut memiliki keberanian dan kegigihan dalam meraih masa depan, tetapi juga harus mampu menumbuhkan empati, menghargai perbedaan, serta berperan aktif menjaga lingkungan dan kebudayaan.

Patriotisme dalam konteks kekinian dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian budaya, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui kegiatan Ngaji Budaya di Gedongsongo, pesan yang diangkat menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia bukan hanya tentang kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga akar kebudayaan dan merawat nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab, pemuda yang mencintai Indonesia adalah mereka yang tidak hanya mengenal sejarah bangsanya, tetapi juga bersedia menjaga warisan leluhur dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

(Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Angkasatimur